pengertian klasifikasi.
Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang
didasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi menggunakan suatu
sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang
memiliki persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu
hewan tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan
lainnya yang memiliki persamaan dalam kategori lain.
Perkembangan Media Pembelajaran
Pada awal sejarah
pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu
kemudian bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh
bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis
buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis
Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun
1657. Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dasar bahwa tidak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih
dahulu melalui penginderaan. Dari sinilah para pendidik mulai menyadari
perlunya sarana belajar yang dapat meberikan rangsangan dan pengalaman belajar
secara menyeluruh bagi siswa melalui semua indera, terutama indera pandang –
dengar.
Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar
(teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya
model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman kongkrit,
motivasi belajar serta mempertinggi daya serap atau retensi belajar. Namun
karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual kurang memperhatikan aspek disain,
pengembangan pembelajaran (instruction) produksi dan evaluasinya. Jadi, dengan
masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar abad ke-20, alat visual untuk
mengkongkritkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal
dengan audio visual atau audio visual aids (AVA) . Untuk memahami peranan media dalam proses
mendapatkan pengalaman belajar bagi siswa, Edgar Dale melukiskannya dalam
sebuah kerucut yang kemudian dinamakan Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Edgar
Dale cone of experience).
Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan
alat bantu audio visual, yang berguna sebagai penyalur pesan atau informasi
belajar.
Pada tahun 1960-1965 orang-orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen
yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah-laku
(behaviorism theory) dari B.F Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam
pembelajaran. Dalam teorinya, mendidik adalah mengubah tingkah-laku siswa.
Teori ini membantu dan mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah
tingkah-laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.
Pada tahun 1965-1970
pendekatan system (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam
kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan system ini mendorong
digunakannya media sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran. Setiap
program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan
perhatian pada siswa.
Perkembangan Media Pembelajaran
Bentuk
interaksi antara pebelajar dan media merupakan komponen penting untuk
mempreskripsikan strategi penyampaian. Komponen ini penting karena
uraian mengenai strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa memberi
gambaran tentang pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh suatu media
pada kegiatan belajar.
Drs. A. A. Gede Agung, M.Pd.
PENGERTIAN
Menurut
kamus besar bahasa indonesia, pengertian media adalah alat atau sarana
komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan
spanduk. Media disebut juga alat-alat audio visual, artinya alat yang
dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan
maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien.
Dengan penggunaan alat-alat ini guru/pendidik dan siswa/peserta didik
dapat berkomunikasi lebih hidup serta interaksinya bersifat multi arah.
Media adalah alat yang dapat membantu proses pembelajaran yang berfungsi
memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pembelajaran
dapat tercapai dngan lebih baik, lebih sempurna.
Media
mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan
motivasi belajar, sehingga siswa/peserta didik tidak menjadi bosan atau
cepat jenuh dalam meraih tujuan-tujuan belajar. Apapun yang disampaikan
oleh guru/pendidik sebaiknya menggunakan media, paling tidak yang
digunakannya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan di
hadapan siswa/peserta didik. Pendidikan melalui media visual adalah
metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu
yang dapat dilihat dari pada sesuatu yang didengar atau dibacanya. Media
pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan dalam melakukan
komunikasi dengan pebelajar. Ini bisa berupa perangkat keras, seperti
komputer, televisi, projektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada
perangkat keras itu. Pengajar juga termasuk media pembalajaran merupakan
bagian dari kajian strategi penyampaian.
KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
Sekurang-kurangnya
ada lima cara dalam mengklasifikasi media pembelajaran yakni: tingkat
kecermatan representasi, tingkat interaksi, tingkat kemampuan khusus,
tingkat pengaruh motivasional, dan tingkat biaya diperlukan.
Tingkat Kecermatan Representasi
Suatu
media bisa diletakkan dalam suatu garis kontinum, seperti: benda
dengar, seperti radio, kaset tape; media pandang-dengar, seperti film
bersuara; media pandang, seperti gambar atau diagram; media dengar,
seperti rekaman suara dan simbol-simbol tertulis. Bagaimanapun juga,
kontinum ini bisa bervariasi untuk suatu pembelajaran. Misalnya,
pembelajaran untuk suatu konser musik memiliki variasi kontinum yang
berbeda menurut tingkat kecepatan reprsentasinya.
Bruber
mengemukakan bahwa suatu pembelajaran harus bergerak dari pengalaman
langsung ke representasi ikonik (seperti dalam gambar dan film), dan
selanjutnya ke representasi simbolik (seperti kata atau sinbol-simbol
lain). Banyak pebelajar telah melihat berbagai aspek bagaimana cara
pengaspalan jalan raya. Mereka melihat banyak kendaraan pengangkut bahan
seperti batu dan pasir, juga cara menata batu, serta ukurannya, cara
membakar aspal dan menuangkannya ke atas batu yang telah ditata,
bagaimana alat-alat besar lainnya.
Mereka
sering mendapat pengalaman ini secara terpisah-pisah. Hal itu berarti
bahwa mereka perlu memiliki pengalaman yang terintegrasi yang
menggambarkan bagaimana cara pembangunan jalan raya. Media film tentang
pembutan jalan raya akan dapat mengintegrasikan semua tahapan ini
sehingga pengalaman-pengalaman mahasiswa/ peserta didik yang
terpisah-pisah tadi terintegrasi ke dalam suatu abtraksi yang bermakna.
Tingkat Interaksi
Hal
yang mampu ditimbulkan oleh suatu media yang juga dapat dibentangkan
dalam suatu kontinum, tetapi titik-titik dalam kontinum itu ditunjukkan
oleh jenis media yang berbeda seperti: komputer, pengajar, buku kerja,
buku teks/rekaman, dan siaran radio/ televisi. Media-media ini juga
mempunyai kemampuan menyajikan berbagai media yang telah dikemukakan
sebelumnya. Misalnya, pengajar dapat menyajikan semua media dari benda
kongkrit sampai simbol-simbol verbal. Buku kerja dapat menyajikan
gambar, diagram, serta simbol-simbol tertulis. Juga dimungkinkan untuk
menggunakan media secara terkombinasi, seperti buku kerja dengan film
atau benda kongkrit pula sedang bekerja di lab, atau buku kerja
dikombinasi dengan buku teks atau radio, atau juga simbol-simbol
tertulis dengan film atau benda-benda konkrit. Kombinasi-kombinasi
lainpun dapat diciptakan untuk keperluan suatu pembelajaran.
Tingkat Kemampuan Khusus
Sesuatu
yang dimiliki oleh suatu media juga dapat dipakai untuk
mempreskripsikan strategi penyampaian. Tiap media dari berbagai media
yang telah dibicarakan di atas, baik dari kontinum tingkat kecermatan
maupun tingkat interaktifnya, dapat diidentifikasi karakteristik khusus
yang dimilikinya. Karakteristik khusus yang dimaksud adalah kemampuannya
dalam menyajikan sesuatu yang tidak dapat disajikan oleh media lain.
Media-media yang mempunyai kemampuan khusus inilah yang amat berpengaruh
dalam menetapkan strategi penyampaian.
Kemampuan-kemampuan
khusus suatu media bisa dilihat dari kecepatannya dalam menyajikan
sesuatu, seperti film tentang pembangunan jalan raya akan lebih cepat
memberi gambaran tentang bagaimana tahapan pembuatan jalan raya,
dibandingkan dengan mengamati langsung ke lokasi yang memakan waktu lama
sampai jalan itu selesai. Kemampuan simulatif, seperti dalam simulator
terbang yang memungkinkan seorang pilot dapat mendaratkan sebuah pesawat
sepuluh kali dalam satu jam tanpa harus lepas landas lagi setiap kali
akan mengambil posisi mendarat berikutnya.
Kemampuan-kemampuan
khusus juga sering dimiliki oleh media-media yang tingkat kecepatan
representasinya rendah. Media rekaman, umpamanya, tidak terikat oleh
waktu dan ruang. Media ini tingkat kecermatan rendah tetapi ia memiliki
kemampuan khusus untuk menyajikan sesuatu yang sudah berlalu dan tak
dapat diulang.
Tingkat Pengaruh Motivasional
Media
juga penting artinya untuk keperluan mempreskripsikan strategi
penyam-paian. Namun pengaruh motivasional ini sering kali amat
bervariasi sejalan dengan perbedaan perseorangan. Umpamanya, seorang
pengajar, sebagai media belajar, dapat bertindak sebagai motivator bagi
seorang pebelajar, tetapi pada saat yang sama, ia justru munghancurkan
motivasi belajar pebelajar lain.
Suatu
media pembelajaran bisa memberi pengaruh motivasi berbeda. Perbedaan
ini lebih banyak dapat dikaitkan dengan perbedaan karakteristik
pebelajar. Makin dekat kesamaan karakteristik pebelajar dengan media
yang dipakai, maka makin tinggi pengaruh motivasional yang bisa
ditimbulkan oleh media itu. Di samping interaksinya dengan karakteristik
pebelajar, media juga dapat berinteraksi dengan tipe isi bidang studi
dalam menentukan pengaruh motivasionalnya. Tipe isi konsep lebih tepat
didekati oleh media benda konkrit, atau gambar serta diagram, sedangkan
untuk tipe isi prosedural, film bersuara yang menunjukkan
prosedur-prosedur yang sedang dipelajari akan dapat menimbulkan pengaruh
motivasional yang tinggi.
Tingkat Biaya Diperlukan
Dalam
menyampaikan suatu media juga penting untuk mengekspresikan strategi
penyampaian. Mulai dari perencanaan sampai pada pembuatannya, kalau
media dikembangkan sendiri. Jika ingin menggunakan media siap pakai,
tidaklah mahal, namun apakah memadai jika dibandingkan dengan
keseluruhan strategi penyampaian yang akan dipakai? Nilai dari suatu
strategi penyampaian dapat ditafsirkan dari jenis dan satuan media yang
dipakai. Bagaimanapun juga, makin tepat dan lengkap media yang dipakai,
makin besar keefektifan dari strategi penyampaian itu.
Interaksi Pebelajar dengan Media Pembelajaran
Bentuk
interaksi antara pebelajar dan media merupakan komponen penting kedua
untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Komponen ini penting karena
uraian mengenai strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa memberi
gambaran tentang pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh suatu media
pada kegiatan belajar. Itulah sebabnya komponen ini lebih menaruh
perhatian pada kajian mengenai kegiatan belajar apa yang dilakukan dan
bagaimana peranan media untuk merangsang kegiatan-kegiatan itu.
Kegiatan
belajar yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan khusus yang telah
ditetapkan banyak sekali ragamnya. Mulai dari kegiatan paling dasar,
seperti membaca, mendengarkan, menulis, sampai kegiatan-kegiatan yang
jauh lebih kompleks yang mengintegrasikan kegiatan-kegiatan dasar
tersebut, seperti mengerjakan tugas, sajian kelas, membuat laporan,
diskusi, dan seterusnya.
Tersedianya
media penting sekali untuk merangsang kegiatan belajar pebelajar.
Kehadiran pengajar untuk mengarahkan kegiatan belajar, buku teks,
sebagai sumber informasi; proyektor, untuk menampilkan film, dan
media-media lain, amat diperlukan untuk merangsang kegiatan belajar.
Interaksi antara pebelajar dengan media inilah yang sebenarnya merupakan
wujud nyata dari tindak belajar. Hal belajar terjadi dalam diri
pebelajaran ketika mereka berinteraksi dengan media lain, karena itu,
tanpa media belajar tidak akan pernah terjadi.
Struktur Pembelajaran
Penyampaian
pembelajaran menggunakan media dapat di selenggarakan dalam kelas
besar. Kegiatan belajar yang dilakukan sering kali lebih banyak
tergantung pada rangsangan pengajar. Penyampaian pembalajaran dalam
kelas besar menurut penggunaan jenis media berbeda dari kelas kecil.
Demikian juga untuk pembelajaran perseorangan dan belajar mandiri.
FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
Sebagai
komponen sistem pembelajaran, media memiliki fungsi yang berbeda dengan
fungsi komponen-komponen lainnya, yaitu sebagai komponen yang dimuati
pesan pembelajaran untuk disampaikan kepada pebelajar. Pada proses
penyampaian pesan ini sering kali terjadi gangguan yang mengakibatkan
pesan pembelajaran tidak di terima oleh pebelajar seperti apa yang
dimaksudkan oleh pengajar. Gangguan-gangguan komunikasi antar
pengajar-pebelajar ini kemungkinan disebabkan oleh verbalisme.
Verbalisme
terjadi apabila seseorang hanya tahu kata yang mewakili suatu objek,
tetapi tidak mengetahui objeknya. Atau, seorang tahu nama konsep, tetapi
tak tahu susbtansi konsepnya. Vebralisme bisa terjadi kalau dalam
proses interaksi pembelajaran hanya melibatkan media verbal sehingga
pebelajar cenderung hanya meniru apa yang dikatakan pengajar tanpa
mengetahui maknanya. Keadaan seperti ini berpotensi untuk mengganggu
interaksi pembelajaran karena apa yang dimaksud oleh pengajar bisa
ditafsirkan lain oleh pebelajar.
Salah
tafsir jelas sekali dapat mengganggu proses penyampaian pesan-pesan
pembelajaran. Ini bisa terjadi bila istilah-istilah yang dimunculkan
dalam proses penyampaian pesan itu tak dipahami sama oleh penyampaian
pesan dan penerima pesan. Perhatian yang tak terpusat atau ganda sering
dapat diajukan sebagai sebab terganggunya proses komunikasi. Gangguan
perhatian muncul karena prosedur penyampaian pesan yang membosankan atau
karena perhatian pebelajar lebih tertarik pada hal-hal yang diluar
pesan yang sedang disampaikan. Gangguan proses komunikasi juga dapat
terjadi karena terbentuknya presepsi yang keliru tentang suatu objek,
peristiwa, atau gejala. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh kurangnya
variasi media yang dilibatkan dalam proses komunikasi tersebut.
Disamping
empat butir penyebab gangguan proses komunikasi, masih ada butir lain
yang juga berpotensi secara langsung dalam menentukan tingkat gangguan
yang bisa dihasilkannya, yaitu kondisi lingkungan dimana komunikasi itu
berlangsung. Tata ruang, tata suara, tata fasilitas amat menentukan
kualitas penyampaian pesan, dan semua butir ini sangat terkait dengan
media apa yang dilibatkan dalam penyampaian pesan.
Kunci
pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan gangguan proses
penyampaian pesan pembelajaran ini terletak pada media yang dipakai
dalam proses itu. Pemilihan media yang tepat, sesuai dengan keistimewaan
yang dimilikinya, akan memperkecil gangguan-ganguan tersebut. Secara
umum, media-media tertentu memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai
berikut.
Kemampuan Fiksatif
Kemampuan
fiskatif yaitu media yang memiliki kemampuan untuk menangkap,
menyimpan, dan kemudian menampilkan kembali suatu objek atau kejadian.
Dengan kemampuan ini berarti suatu objek atau kejadian dapat digambar,
dipotret, difilmkan, atau direkam kemudian dapat disimpan lama dan pada
saat diperlukan dapat ditunjukkan lagi dan diamati kembali seperti
kejadian aslinya.
Kemampuan Manipulatif
Kemampuan
manipulatif artinya kemampuan media untuk menampilkan kembali objek
atau kejadian dengan berbagai macam cara disesuaikan dengan
keperluannya. Maksudnya, penampilan suatu objek atau kejadian dapat
diubah-ubah ukurannya, kecepatannya serta diulang-ulang penampilannya.
Kemampuan Distributif
Kemampuan
distributif adalah kemampuan media dalam sekali penampilan suatu objek
atau kejadian dapat menjangkau pengamat yang sangat banyak, misalnya
dengan penggunaan media TV atau radio.
Dilihat
dari keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya, media mempunyai fungsi
yang jelas untuk menghindari atau memperkecil gangguan komunikasi
penyampaian pesan pembelajaran. Secara garis besar fungsi media dapat
dikemukakan seperti berikut ini.
- menghindari terjadinya verbalisme.
- membangkitkan minat dan motivasi
- menarik perhatian pebelajar
- mengatasi keterbatasan: ruang, waktu dan ukuran
- mengaktifkan mahasiswa/peserta didik dalam kegiatan belajar
- mengaktifkan pemberian rangsangan untuk belajar.
Secara lebih terperinci fungsi media dalam proses pembelajaran dapat dikemukakan berikut ini.
- media
memungkinkan pebelajar menyaksikan benda/peristiwa yang terjadi
pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film
dan sebagainya, pebelajar dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang
peristiwa/benda bersejarah.
- media
memungkinkan pebelajar mengamati peristiwa/benda yang sukar
dikunjungi, baik karena tempatnya jauh atau karena berbahaya atau
terlarang, misalnya film tentang kehidupan harimau di hutan, keadaan dan
kesibukan di pusat reaktor nuklir dan sebagainya.
- media
memungkinkan pebelajar untuk memperoleh gambaran yang jelas
tentang banda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena
ukurannya yang tidak memungkinkan, baik karena terlalu besar atau
terlalu kecil misalnya, dengan perantaraan TV mahasiswa/peserta
didik dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bedungan atau
kompleks pembangki listrik, dengan slide atau film pebelajar dapat
memperoleh gambaran tentang bakteri, amoeba dan sebagainya.
- media
memungkinkan pebelajar mendengar suara yang sukar ditangkap
telinga secara langsung, misalnya, rekaman denyut jantung dan
sebagainya.
- media
memungkinkan pebelajar mengamati dengan teliti binatang-binatang
yang sukar diamati secara langsung karena sukar ditangkap. Dengan
bantuan gambar, potret, slide, film atau rekaman, pebelajar dapat
mangamati berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar dan
sebagainya.
- media
memungkinkan pebelajar dapat mengamati dengan jelas benda-benda
yang mudah rusak/sukar diawetkan. Dengan menggunakan model/benda
tiruan mahasiswa/peserta didik dapat memperoleh gambaran yang jelas
tentang organ-organ tubuh, jantung, paru-paru dan sebagainya.
- media
memungkinkan pebelajar dapat mengamati peristiwa-peristiwa yang
jarang terjadi atau bahaya didekati. Dengan film, slide, vidio
cassette pebelajar dapat mengamati pelangi, gunung meletus, perang,
dan lain sebagainya.
- media
memungkinkan pebelajar dengan mudah membandingkan sesuatu. Dengan
bantuan gambar, foto atau model pebelajar dapat dengan mudah
membandingkan dua benda yang berbeda sifat, ukuran, ataupun
bentuknya.
- media
dapat memperlihatkan secara cepat proses yang berlangsung secara
lambat. Denga media film proses perkembangan katak dari telur
mejadi katak, hanya ditunjukkan dalam beberapa menit. Demikian pula,
bunga dari kuncup sampai mekar, dapat ditunjukkan film dalam
beberapa detik saja.
- media
dapat memperlihatkan secara lamban gerakan-gerakan yang
berlangsung amat cepat. Media film dapat memperlihatkan gerakan
lompat tinggi, salto, dan sebagainya secara lambat, bahkan dapat juga
dihentikan, jika perlukan untuk mengamati secara teliti.
- media
mempermudah pebelajar mengamati gerakan-gerakan mesin/alat yang
sukar diamati secara langsung. Dengan film dapat dengan mudah
mengamati jalanya mesin motor empat tak, dan sebagainya.
- media
memungkinkan menunjukkan bagian-bagian yang tersembunyi dari
benda/alat. Dengan diagram, bagan dapat ditunjukkan bagian-bagian
mesin yang sukar diamati secara langsung.
- media
dapat menyajikan ringkasan dari suatu rangkaian pengamatan yang
panjang/lama, misalnya setelah pebelajar mengamati proses
penggilingan tebu pada suatu pabrik gula, kemudian diberi kesempatan
untuk menyaksikan film yang menyajikan secara ringkas proses
penggilingan tebu. Dengan demikian, maka gambaran yang diperoleh
mahasiswa/peserta didik tentang proses penggilingan tebu akan lebih
mantap dan jelas.
- media
memungkinkan dapat menjangkau sasaran yang besar jumlahnya. Dengan
CCTV radio pendidikan, ratusan pebelajar dapat mengikuti pelajaran
yang disajikan oleh seorang dosen dalam waktu yang sama.
- media
memungkinkan pebelajar dapat belajar dengan kemampuan, minat, dan
temponya masing-masing. Dengan modul atau pembalajaran berprogram
pebelajar dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan
masing-masing.
PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
Memilih
media yang terbaik untuk tujuan pembelajaran bukan pekerjaan yang
mudah. Pemilihan itu didasarkan pada beberapa faktor yang saling
berhubungan seperti berikut.
- seberapa jauh situasi dan latar belakang pekerjaan yang sebenarnya perlu ditiru dalam program pembelajaran?
- media apa yang dianggap paling praktis untuk melaksanakan dan memperbaharui program pelatihan?
- apakah
diperlukan perlengkapan untuk menggunakan media yang dipilih itu,
apakah pengadaan peralatan tertentu itu dapat
dipertanggung-jawabkan untuk keperluan pelajaran yang bersangkutan?
- apakah
media itu sesuai dengan kebutuhan belajar pebelajar (ditinjau dari
segi kebudayaan, usia, kebiasaan belajar) atau malah akan
membingungkan mereka?
- sejauh-manakah pencapaian pebelajar harus sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan?
- apakah
nilai bahan pelajaran (perubahan tingkah laku yang diharapkan
terjadi, jumlah pebelajar yang dilatih atau isi mata pelajaran)
sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan media itu?
Fakto-faktor dalam Pemilihan Media Pembelajaran
- Tujuan: Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
- Ketepat-gunaan: Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan/diinformasikan
- Tingkat kemampuan siswa/peserta didik:
Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan
siswa/peserta didik, pendekatan terhadap pokok masalah, besar
kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut.
- Biaya: Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia.
- Ketersediaan:
Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak, apakah ada
pengganti yang relevan, direncanakan untuk perorangan atau
kelompok.
- Mutu teknis:
Kualitas media harus dipertimbangkan, jika media sudah rusak atau
kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer
informasi (tidak menarik, detail kurang bisa dipahami).
Prinsip dalam Pemilihan Media Pembelajaran
Ada beberapa prisip yang perlu dipertimbangkan pengajar dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran, yaitu:
- tidak
ada suatu media yang paling unggul untuk semua tujuan, suatu media
hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin
tidak cocok untuk yang lain.
- media
adalah bagian integal dari proses pembelajaran. Hal ini berarti
bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar pengajar saja,
tetapi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses
pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen yang
lain dalam perencanaan intruksional. Tanpa alat bantu pembalajran
mungkin pembalajaran dapat berlangsung, tetapi tanpa media
pembalajaran itu takkan terjadi.
- media
apapun yang berhak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk
memudahkan belajar mahasiswa/peserta didik. Kemudahan belajar
mahasiswa/peserta didik haruslah dijadikan acuan utama dalam pemilihan
dan penggunaan suatu media.
- penggunaan
berbagai media dalam suatu pembalajaran bukan hanya sekedar
selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan
yang menyatu dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.
- pemilihan media hendaklah objektif ( didasarkan pada tujuan pembelajaran), tidak didasarkan pada kesenangan pribadi.
- penggunaan
beberapa media sekaligus akan membingungkan mahasiswa/peserta
didik. Penggunaan multi media tidak berarti media yang banyak
sekaligus, tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan
media yang lain untuk tujuan yang lain pula.
- kebaikan
dan keburukan media tidak tergantung pada kekongkritan dan
keabstrakannya. Media yang kongkrit ujudnya, mungkin sukar buntuk
dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstak dapat pula memberikan
pengertian yang tepat.
KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi
pesan, orang, dan peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam
dunia pendidikan (misalnya teori/konsep baru dan teknologi), media
pendidikan (pembelajaran) terus mengalami perkembangan dan tampil dalam
berbagai jenis dan format, dengan masing-masing ciri dan kemampuannya
sendiri. Dari sinilah kemudian timbul usaha-usaha untuk melakukan
klasifikasi atau pengelompokan media, yang mengarah kepada pembuatan
taksonomi media pendidikan/pembelajaran.
Usaha-usaha ke arah taksonomi media tersebut telah dilakukan oleh
beberapa ahli. Rudy Bretz, mengklasifikasikan media berdasarkan unsur
pokoknya yaitu suara, visual (berupa gambar, garis, dan simbol), dan
gerak. Di samping itu juga, Bretz membedakan antara media siar
(telecommunication) dan media rekam
(recording).
Dengan demikian, media menurut taksonomi Bretz dikelompokkan menjasi 8
kategori: 1) media audio visual gerak, 2) media audio visual diam, 3)
media audio semi gerak, 4) media visual gerak, 5) media visual diam, 6)
media semi gerak, 7) media audio, dan 8) media cetak.
Pengelompokan menurut tingkat kerumitan perangkat media, khususnya
media audio-visual, dilakukan oleh C.J Duncan, dengan menyususn suatu
hirarki. Dari hirarki yang digambarkan oleh Duncan dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat hirarki suatu media, semakin
rendah satuan biayanya dan semakin khusus sifat penggunaannya. Namun
demikian, kemudahan dan keluwesan penggunaannya semakin bertambah.
Begitu juga sebaliknya, jika suatu media berada pada hirarki paling
rendah. Schramm (dalam Sadiman, dkk., 1986) juga melakukan pegelompokan
media berdasarkan tingkat kerumitan dan besarnya biaya. Dalam hal ini,
menurut Schramm ada dua kelompok media yaitu
big media (rumit dan mahal) dan
little media
(sederhana dan murah). Lebih jauh lagi ahli ini menyebutkan ada media
massal, media kelompok, dan media individu, yang didasarkan atas daya
liput media.
Beberapa ahli yang lain seperti Gagne, Briggs, Edling, dan Allen,
membuat taksonomi media dengan pertimbangan yang lebih berfokus pada
proses dan interaksi dalam belajar, ketimbang sifat medianya sendiri.
Gagne misalnya, mengelompokkan media berdasarkan tingkatan hirarki
belajar yang dikembangkannya. Menurutnya, ada 7 macam kelompok media
seperti: benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak,
gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Briggs
mengklasifikasikan media menjadi 13 jenis berdasarkan kesesuaian
rangsangan yang ditimbulkan media dengan karakteristik siswa. Ketiga
belas jenis media tersebut adalah: objek/benda nyata, model, suara
langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan
tulis, media transparansi, film bingkai, film (16 mm), film rangkai,
televisi, dan gambar (grafis).
Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media pembelajaran pun
mengalami perkembangan melalui pemanfaatan teknologi itu sendiri.
Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, Arsyad (2002)
mengklasifikasikan media atas empat kelompok: 1) media hasil teknologi
cetak, 2) media hasil teknologi audio-visual, 3) media hasil teknologi
berbasis komputer, dan 4) media hasil gabungan teknologi cetak dan
komputer. Seels dan Glasgow (dalam Arsyad, 2002) membagi media ke dalam
dua kelompok besar, yaitu: media tradisional dan media teknologi
mutakhir. Pilihan media tradisional berupa media visual diam tak
diproyeksikan dan yang diproyeksikan, audio, penyajian multimedia,
visual dinamis yang diproyeksikan, media cetak, permainan, dan media
realia. Sedangkan pilihan media teknologi mutakhir berupa media berbasis
telekomunikasi (misal teleconference) dan media berbasis mikroprosesor
(misal: permainan komputer dan hypermedia).
Dari beberapa pengelompokkan media yang dikemukakan di atas,
tampaknya bahwa hingga saat ini belum terdapat suatu kesepakatan tentang
klasifikasi (sistem taksonomi) media yang baku. Dengan kata lain, belum
ada taksonomi media yang berlaku umum dan mencakup segala aspeknya,
terutama untuk suatu sistem instruksional (pembelajaran). Atau memang
tidak akan pernah ada suatu sistem klasifikasi atau pengelompokan yang
sahih dan berlaku umum. Meskipun demikian, apapun dan bagaimanapun cara
yang ditempuh dalam mengklasifikasikan media, semuanya itu memberikan
informasi tentang spesifikasi media yang sangat perlu kita ketahui.
Pengelompokan media yang sudah ada pada saat ini dapat memperjelas
perbedaan tujuan penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa
dijadikan pedoman dalam memilih media yang sesuai untuk suatu
pembelajaran tertentu.
KARAKTERISTIK BEBERAPA JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tertentu, yang
dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi. Misalnya, Schramm melihat
karakteristik media dari segi ekonomisnya, lingkup sasaran yang dapat
diliput, dan kemudahan kontrolnya oleh pemakai (Sadiman, dkk., 1990).
Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuannya
membangkitkan rangsangan seluruh alat indera. Dalam hal ini, pengetahuan
mengenai karakteristik media pembelajaran sangat penting artinya untuk
pengelompokan dan pemilihan media. Kemp, 1975, (dalam Sadiman, dkk.,
1990) juga mengemukakan bahwa karakteristik media merupakan dasar
pemilihan media yang disesuaikan dengan situasi belajar tertentu.
Gerlach dan Ely mengemukakan tiga karakteristik media berdasarkan
petunjuk penggunaan media pembelajaran untuk mengantisipasi kondisi
pembelajaran di mana guru tidak mampu atau kurang efektif dapat
melakukannya. Ketiga karakteristik atau ciri media pembelajaran tersebut
(Arsyad, 2002) adalah: a)
ciri fiksatif, yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek; b)
ciri manipulatif,
yaitu kamampuan media untuk mentransformasi suatu obyek, kejadian atau
proses dalam mengatasi masalah ruang dan waktu. Sebagai contoh, misalnya
proses larva menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu dapat
disajikan dengan waktu yang lebih singkat (atau dipercepat dengan teknik
time-lapse recording). Atau sebaliknya, suatu
kejadian/peristiwa dapat diperlambat penayangannya agar diperoleh
urut-urutan yang jelas dari kejadian/peristiwa tersebut; c)
ciri distributif,
yang menggambarkan kemampuan media mentransportasikan obyek atau
kejadian melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian itu disajikan
kepada sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus
pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Berdasarkan uraian sebelumnya, ternyata bahwa karakteristik media,
klasifikasi media, dan pemilihan media merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran. Banyak ahli,
seperti Bretz, Duncan, Briggs, Gagne, Edling, Schramm, dan Kemp, telah
melakukan pengelompokan atau membuat taksonomi mengenai media
pembelajaran. Dari sekian pengelompokan tersebut, secara garis besar
media pembelajaran dapat diklasifikasikan atas: media grafis, media
audio, media proyeksi diam (hanya menonjolkan visual saja dan disertai
rekaman audio), dan media permainan-simulasi. Arsyad (2002)
mengklasifikasikan media pembelajaran menjadi empat kelompok berdasarkan
teknologi, yaitu: media hasil teknologi cetak, media hasil teknologi
audio-visual, media hasil teknologi berdasarkan komputer, dan media
hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Masing-masing kelompok
media tersebut memiliki karakteristik yang khas dan berbeda satu dengan
yang lainnya. Karakteristik dari masing-masing kelompok media tersebut
akan dibahas dalam uraian selanjutnya.
Media grafis. Pada prinsipnya semua jenis
media dalam kelompok ini merupakan penyampaian pesan lewat simbul-simbul
visual dan melibatkan rangsangan indera penglihatan. Karakteristik yang
dimiliki adalah: bersifat kongkret, dapat mengatasi batasan ruang dan
waktu, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang masalah apa saja dan
pada tingkat usia berapa saja, murah harganya dan mudah mendapatkan
serta menggunakannya, terkadang memiliki ciri abstrak (pada jenis media
diagram), merupakan ringkasan visual suatu proses, terkadang menggunakan
simbul-simbul verbal (pada jenis media grafik), dan mengandung pesan
yang bersifat interpretatif.
Media audio. Hakekat dari jenis-jenis media
dalam kelompok ini adalah berupa pesan yang disampaikan atau dituangkan
kedalam simbul-simbul auditif (verbal dan/atau non-verbal), yang
melibatkan rangsangan indera pendengaran. Secara umum media audio
memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut: mampu mengatasi
keterbatasan ruang dan waktu (mudah dipindahkan dan jangkauannya luas),
pesan/program dapat direkam dan diputar kembali sesukanya, dapat
mengembangkan daya imajinasi dan merangsang partisipasi aktif
pendengarnya, dapat mengatasi masalah kekurangan guru, sifat
komunikasinya hanya satu arah, sangat sesuai untuk pengajaran musik dan
bahasa, dan pesan/informasi atau program terikat dengan jadwal siaran
(pada jenis media radio).
Media proyeksi diam. Beberapa jenis media
yang termasuk kelompok ini memerlukan alat bantu (misal proyektor) dalam
penyajiannya. Ada kalanya media ini hanya disajikan dengan penampilan
visual saja, atau disertai rekaman audio. Karakteristik umum media ini
adalah: pesan yang sama dapat disebarkan ke seluruh siswa secara
serentak, penyajiannya berada dalam kontrol guru, cara penyimpanannya
mudah (praktis), dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan indera,
menyajikan obyek -obyek secara diam (pada media dengan penampilan visual
saja), terkadang dalam penyajiannya memerlukan ruangan gelap, lebih
mahal dari kelompok media grafis, sesuai untuk mengajarkan keterampilan
tertentu, sesuai untuk belajar secara berkelompok atau individual,
praktis dipergunakan untuk semua ukuran ruangan kelas, mampu menyajikan
teori dan praktek secara terpadu, menggunakan teknik-teknik warna,
animasi, gerak lambat untuk menampilkan obyek/kejadian tertentu
(terutama pada jenis media film), dan media film lebih realistik, dapat
diulang-ulang, dihentikan, dsb., sesuai dengan kebutuhan.
Media permainan dan simulasi. Ada beberapa
istilah lain untuk kelompok media pembelajaran ini, misalnya simulasi
dan permainan peran, atau permainan simulasi. Meskipun berbeda-beda,
semuanya dapat dikelompkkan ke dalam satu istilah yaitu permainan
(Sadiman, 1990). Ciri atau karakteristik dari media ini adalah:
melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses belajar, peran pengajar
tidak begitu kelihatan tetapi yang menonjol adalah aktivitas interaksi
antar pebelajar, dapat memberikan umpan balik langsung, memungkinkan
penerapan konsep-konsep atau peran-peran ke dalam situasi nyata di
masyarakat, memiliki sifat luwes karena dapat dipakai untuk berbagai
tujuan pembelajaran dengan mengubah alat dan persoalannya sedikit saja,
mampu meningkatkan kemampuan komunikatif pebelajar, mampu mengatasi
keterbatasan pebelajar yang sulit belajar dengan metode tradisional, dan
dalam penyajiannya mudah dibuat serta dipelajari.
Komunikasi Dalam "Pembelajaran"
Komunikasi dalam pembelajaran sangatlah penting karena tanpa adanya
kamunikasi suatu pembelajaran tidak akan bisa sukses. Dan dalam makalah
ini insyaallah akan kami terangkan beberapa perkara yang berkaitan
dengan komunikasi pembelajaran. Apa sajakah macam-macam komunikasi dalam
pembelajaran? Bagaimanakah pemanfaatan TIK dalam pembelajaran? Apakah
yang menyebabkan kegagalan komunikasi dalam pembelajaran? Semuanya akan
kami bahas dalam makalah ini.
Definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan,
penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri
seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu.
Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi
adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan
pengolahan pesan.
Komunikasi sebagai Ilmu Struktur ilmu pengetahuan meliputi aspek
aksiologi, epistomologi dan ontologi. Aksiologi mempertanyakan dimensi
utilitas (faedah, peranan dan kegunaan). Epistomologi menjelaskan
norma-norma yang dipergunakan ilmu pengetahuan untuk membenarkan dirinya
sendiri. Sedangkan ontologi mengenai struktur material dari ilmu
pengetahuan
A. Macam-macam Komunikasi dalam Pembelajaran
1. Secara Langsung
Seorang guru memberikan pelajaran secara langsung dengan bertatap muka
dengan para siswa dalam suatu ruangan ataupun di luar ruangan dalam
konteks pembelajaran. Seperti yang terjadi di sekitar kita mulai dari
sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
2. Secara Tidak Langsung
Guru atau pendidik dapat memberikan suatu pembelajaran melalui suatu
media tanpa harus bertatap muka secara langsung dengan siswa. Dan
siswapun dapat memperoleh informasi secara luas melalui media tersebut.
Seperti model sekolah jarak jauh yaitu memanfaatkan media internet
sebagai alat untuk pembelajaran.
B. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran
1. Presentasi
Presentasi merupakan cara yang sudah lama digunakan, dengan menggunakan
OHP atau chart. Peralatan yang digunakan sekarang biasanya menggunakan
sebuah komputer/laptop dan LCD proyektor. Ada beberapa keuntungan jika
kita memanfaatkan TIK diantaranya kita bisa menampilkan animasi dan
film, sehingga tampilannya menjadi lebih menarik dan memudahkan siswa
untuk menangkap materi yang kita sampaikan.
2. Demonstrasi
Demontrasi biasanya digunakan untuk menampilkan suatu kegiatan di depan
kelas, misalnya eksperimen. Kita bisa membuat suatu film caracara
melakukan suatu kegiatan misalnya cara melakukan pengukuran dengan
mikrometer yang benar atau mengambil sebagian kegiatan yang penting.
Sehingga dengan cara ini siswa bisa kita arahkan untuk melakukan
kegiatan yang benar atau mengambil kesimpulan dari kegiatan tersebut.
3. Virtual Experiment
Maksud dari virtual eksperimen disini adalah suatu kegiatan laboratorium
yang dipindahkan di depan komputer. Anak bisa melakukan beberapa
eksperimen dengan memanfaatkan software virtual eksperimen misalnya
Crocodile Clips.
4. Kelas virtual
Maksud kelas virtual di sini adalah siswa belajar mandiri yang
berbasiskan web, misalnya menggunakan moodle. Saya berikan contoh bentuk
kelas maya yang sedang kami kembangkan di MAN 2 Ciamis.
C. Komponen-komponen CTL
1. Konstruktivisme (Construktivism)
Konstruktivisme (constructivisvism) merupakan landasan berfikir
(filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan
diingat. manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.
Dalam pandangan konstruktivis, straegi “memperoleh” lebih diutamakan
dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan :
a. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
b. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
c. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan
hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan
sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan
menemukan, apapun materi yang diajarkannya.
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri) :
1. Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
· Bagaimanakah silsilah raja-raja Majapahit (dalam mata pelajaran sejarah)
· Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai Kendari (bahasa Indonesia)?
· Ada berapa jenis tumbuham menurut bentuk bijinya (biologi)
· Kota mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia? (geografi)
2. Mengamati atau observasi
· Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung.
· Mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati.
3. Menganalsis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya
· Siswa membuat peta kota-kota besar sendiri.
· Siswa membuat paragraf deskripsi sendiri.
· Siswa membuat bagan silsilah raja-raja majapahit sendiri.
· Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri
· Siswa membuat essai atau usulan kepada Pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya sendiri, dst.
4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain
· Karya siswa disampaikan teman sekelas, guru, atau kepada orang banyak untuk mendapatkan masukan
· Bertanya jawab dengan teman,
· Memunculkan ide-ide baru
· Melakukan refleksi
· Menempelkan gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di majalah dinding, majalah sekolah, dsb.
3. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari “bertanya”.
Sebelum tahu kota Palu, seseorang bertanya “Mana arah kota Palu?
Questioning merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL.
bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk
mendorong membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1. Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
2. Mengecek pemahaman siswa
3. Membangkitkan respon kepada siswa
4. Mengetahui sejauh mana keinginantahuan siswa
5. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
6. Menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
7. Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
8. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh
dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar
meraut pensil dengan peraut elektronik, ia bertanya kepada temannya
“Bagaimana caranya? tolong bantu aku!” Lalu temannya yang sudah biasa,
menunjukkan cara mengoperasikan alat itu.
“Masyarakat-belajar” bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua
arah, “Seorang guru yang mengajari siswanya” bukan contoh
masyarakat-belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu
informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, tidak ada arus informasi
yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh
ini yang belajar hanya siswa bukan guru. dalam masyarakat-belajar, dua
kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling
belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar
memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus
juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.
Metode pembelajaran dengan teknik “learning community” sangat membantu
proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terujud
dalam:
a. Pembentukan kelompok kecil
b. Pembentukan kelompok besar
c. Mendatangkan “ahli’ ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dsb.)
d. Bekerja dengan kelas sederajat
e. Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya
f. Bekerja dengan masyarakat
5. Pemodelan (Modelling)
Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru. model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara
melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan
bahasa Inggris, dan sebaginya. Atau, guru memberi contoh cara
mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang
“bagaimana cara belajar”.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi juga bagian penting dalam pembelejaran dengan pendekatan CTL.
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan di
masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai
struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari
pengetahuan sebelumnya. Rfleksi merupakan respon terhadap kejadian,
aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika
pelajaran berakhir, siswa merenung “Kalau begitu, cara saya menyimpan
file selama ini salah, ya! Mestinya, dengan cara yang baru saya pelajari
ini, file komputer lebih tertata”.
7. Penilaian Yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa
perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami
proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru
mengindentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka
guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari
kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu
diperlukan sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak
dilakukan di akhir priode (cawu/semester) pembelajaran seperti pada
kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti) EBTA/EBTANAS, tetapi dilakukan
bersama dengan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan
pembelajaran.
D. Kegunaan Media Komunikasi dalam Pembelajaran
1. Memberi pengetahuan tentang tujuan belajar
Pada permulaan pembelajaran, siswa perlu diberi tahu tentang pengetahuan
yang akan diperolehnya atau keterampilan yang akan dipelajarinya.
Kepada siswa harus dipertunjukkan apa yang diharapkan darinya, apa yang
harus dapat ia lakukan untuk menunjukkan bahwa ia telah menguasai bahan
pelajaran dan tingkat kesulitan yang diharapkan.
2. Motivasi siswa
Salah satu peran yang umum dari media komunikasi adalah memotivasi
siswa. Tanpa motivasi sangat mungkin pembelajaran tidak akan
menghasilkan belajar. Usaha untuk memotivasi siswa seringkali dilakukan
dengan menggambarkan sejelas mungkin keadaan di masa depan, dimana siswa
perlu menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya.
3. Menyajikan informasi
Ada 3 jenis variasi penyajian informasi :
a. Penyajian dasar (basic), membawa siswa kepada pengenalan pertama
terhadap materi pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan diskusi,
kegiatan siswa atau reviw oleh guru kelas.
b. Penyajian pelengkap (supplementary), setelah penyajian dasar
dilakukan oleh guru kelas, media digunakan untuk membawa sumber-sumber
tambahan kedalam kelas
c. Penyajian pengayaan (enrchment), merupakan informasi yang tidak
merupakan bagian dari tujuan pembelajaran, diadakan karena memiliki
nilai motivasi dan dapat mencapai perubahan sikap dalam diri siswa.
4. Merangsang diskusi
Kegunaan media untuk merangsang diskusi seringkali disebut sebagai papan
loncat, diambil dari bentuk penyajian yang relative singkat kepada
sekelompok siswa dan dilanjutkan dengan diskusi.
5. Mengarahkan kegiatan siswa
Pengarahan kegiatan siswa merupakan penerapan dari metode pembelajaran
yang disebut metode kinerja (performance) atau metode penerapan
(aplication). Penekanan pada metode ini adalah pada kegiatan melakukan
(doing).media dapat digunakan secara singkat atau sebentar-sebentar
untuk mengajak siswa mulai dan berhenti.
6. Pelaksanaan latihan dan ulangan
Dalam belajar keterampilan, apakah itu bersifat kognitif atau psikomotor
pengulangan respon-respon dianggapa sangat penting untuk kemajuan
kecepatan dan tingkat kemahiran. Penyajian latihan adalah proses mekanis
murni dan dapat dilakukan dengan sabar dan tak kenal lelah oleh media
komunikasi, khususnya oleh media yang dikelola oleh media computer.
Laboratorium bahasa juga merupakan salah satu contoh media yang
digunakan untuk pengulangan dan latihan.
7. Menguatkan belajar
Penguatan sering kali disamakan dengan motivasi, atau digolongkan pada
motivasi. Penguatan adalah kepuasan yang dihasilkan dari belajar, dimana
cenderung meningkatkan kemungkinan siswa merespon dengan tingkah laku
yang diharapkan, setelah diberikan stimulus.
8. Memberi pengalaman simulasi
Simulator adalah alat untuk menciptakan ligkungan buatan yang secara
realistis dapat merangsang siswa dan bereaksi terhadap rsponnya sendiri,
sehingga dapat melatih perilaku kompleks yang membutuhkan lingkungan
khusus. Contoh yang sering ditemui adalah simulator mobil yang digunakan
untuk latihan mengendarai mobil dan simulator pesawat yang digunakan
untuk pelatihan pilot.
Dalam kommunikasi pembelajaran juga ada beberapa yang menjadi kendala diantaranya yaitu :
1. Penyampaiannya kurang mengena/ mnarik kepada peserta didik.
2. Kurangnya minat peserta didik dalam pembelajaran
3. Kurangnya alat atau bahan pembelajaran.
4. Pendidik tidak menguasai materi.
5. Factor beda bahasa antara pandidik dengan peserta didik.
6. Adanya masalah pribadi antara peserta didik dengan penddidik.
7. Kurangpedulinya pendidik atau peserta didik dengan pembelajaran tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
AECT. 1970. The Definition of Educational Technology. Washington
Gagne, Robert M. 1977. The Conditions of Learning and Theory of
Instruction. Fourth Edition. New York. Holt-Saunders International
Editions.
Perkembangan Teknologi Komunikasi » Blog Archive » Sisi Devil dari Teknologi.htm
Januszewski, Alan. 2001. Educational Technology, The Development of a Concept. Englewood, Colorado. Libraries Unlimited.